Selasa, 09 Desember 2014

MENIKAH HARUS LEBIH BAHAGIA DARI SEBELUM NIKAH, KALO TIDAK BUAT APA NIKAH

Minggu lalu sempat ngerumpi bareng teman yang sudah menikah, dan sangat kaget sekali dengan kata2 yang dilontarkan oleh dia.

"Menikah Harus Lebih Bahagia dari Sebelum Nikah, Kalo tidak Buat Apa Menikah ???"

dalam hati berasa "get real babe", kok pernyataan diatas terkesan egosentris dan sangat individual sekali pemikiran-nya. Kalo setiap individu ingin bahagia, lantas pihak mana yang bertanggung jawab untuk memberikan kebahagiaan ??? Akhir-nya akan saling nuntut, memberikan tekanan kepada satu sama lain.

Pernikahan yang bahagia diluar faktor orang ketiga, masalah ekonomi, KDRT ialah hubungan simbiosis mutualisme, ketika dua belah pihak sama2 diuntungkan, sama2 bahagia ..... berarti masing2 pihak bertanggung jawab untuk memberikan kebahagiaan satu sama lain, bukan hanya menerima maupun menuntut untuk dibahagiakan. Dengan demikian 2 belah pihak akan bahagia. 

Memang tidak mudah, dibutuhkan pengorbanan, perjuangan, pengertian untuk mencapai itu semua, 

Istilah "Happily Ever After" cuman terjadi di dongeng, Dalam kejadian nyata, hidup manusia itu naik turun, kita harus berjuang untuk sebuah kebahagiaan. Apalagi zaman sekarang, gak bahagia dikit mainan-nya cerai euy, kesenggol ego-nya dikit, ngancem-nya cerai, serem euy.

Kalo udah gitu dalih-nya pasti

"Saya kan mau cari kebahagiaan saya sendiri"

lah kalo gitu cara-nya kenapa menikah dan berjanji di altar pelaminan "Aku akan mencintaimu di saat senang dan susah, miskin atau kaya, sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kita."

Pada saat miskin, kaum hawa cenderung lebih berpotensi untuk meninggalkan pasangan-nya karena tidak bisa hidup susah, pada saat kaya, cenderung kaum adam lebih berpotensi meninggalkan pasangan-nya.

Cinta memang menjadi pemicu untuk terjadi-nya sebuah pernikahan, namun komitmen dan tanggung jawab lah yang berperan untuk menjaga kehidupan pernikahan itu tetap utuh dalam jangka panjang. Cinta itu bentuk-nya tidak solid, senantiasa berubah2 terkadang sebal, benci, kesal, sayang, dll. Seseorang dalam hidup-nya bisa mencintai tidak cuman 1 orang, tapi dengan komitmen dia sadar itu pasangan yang telah dia pilih dan dia harus bertanggung jawab dengan semua janji2-nya untuk bersama-nya sampai maut memisahkan.

Sebuah pernikahan kalo landasan-nya berdasarkan cinta akan sangat rentan sekali kondisi-nya.

Kalo setiap individu berpikir menikah untuk bahagia, maka lebih baik kumpul kebo az, kalo tidak bahagia tinggal cap cus. Pernikahan tidak pernah memberikan jaminan kebahagiaan. Kebahagiaan itu butuh pengorbanan dan perjuangan. 

Pernikahan merupakan sebuah keikhlasan untuk berkorban demi membuat semua pihak bahagia.

Seorang wanita pada saat dia menikah akan mengorbankan kebebasan dia untuk membatasi diri-nya dengan pria lain karena tidak mau menyakiti perasaan suami-nya, mengorbankan tubuh indah-nya untuk memilikki anak, mengorbankan waktu-nya untuk menjaga anak dan suami-nya, mengorbankan karir-nya untuk menjadi fully time mendidik anak-nya.

Sedangkan bagi pria, dia harus kerja ekstra keras untuk membiayai istri dan anak2-nya, waktu hangout bersama teman2 juga berkurang, kebebasan-nya sudah pasti hilang karena dia sudah menikah, dll.

Mungkin bagi yang berbakti pada orang tua, akan berkorban untuk menjaga mertua-nya juga selain daripada orang tua-nya sendiri demi menyenang-kan pasangan-nya. bukan hal mudah untuk menjaga orang lain dibutuhkan ketulusan, keikhlasan. Ada juga yang mungkin membantu pihak keluarga pasangan-nya.